Rabu, 19 Februari 2014

KH. Agus Salim

Dikutip dari Nationalgeographic.co.id dari

(Agus Surono, Sumber: Intisari-online.com)

Haji Agus Salim Terapkan "Homeschooling"

Ia adalah praktisi "homeschooling", pendidik yang hebat, dan jenius 9 bahasa—termasuk "bahasa kambing" rasanya belum semua orang dengar.

haji agus salimHaji Agus Salim (Tropenmuseum/wikimedia commons).
Sebagai Pahlawan Nasional, kenegarawanan H. Agus Salim sudah sangat dikenal. Tapi sebagai praktisi homeschooling, pendidik yang hebat, dan jenius 9 bahasa - termasuk "bahasa kambing" rasanya belum semua orang dengar.
Tiap orangtua punya cara sendiri dalam menggembleng anak-anaknya. Termasuk H. Agus Salim saat menjalankan metode homeschooling. Dia tidak pernah menentukan jam belajar dan bermain bagi anak-anaknya, namun setiap ada kesempatan ia gunakan untuk mendidik mereka. Caranya, selalu mendorong anak-anaknya untuk ingin tahu dan memberikan alat untuk memuaskan keinginan tahu tersebut. Karena waktu itu belum ada internet, tentu saja sarananya adalah buku.
Nyanyi tari Belanda
Mohammad Roem (kelak menjadi tokoh Masyumi dan beberapa kali menjadi Menteri), sewaktu berusia 20 tahun sering datang ke rumah Agus Salim. Dia ikut menyaksikan bagaimana homeschooling itu terlaksana. Suatu kali, Syaukat, anak Agus yang baru berusia 4 tahun keluar kamar tidur, minta punggungnya digaruk ayahnya karena gatal. Balita itu berbicara bahasa Belanda dengan baik. Konon, sejak bayi mereka sudah diajak bicara bahasa Belanda dan diajari menyanyi Belanda.
Tanggal 28 Oktober 1928, ketika W.R. Supratman menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan biola, putri pertama Agus Salim, Dolly, saat itu berusia 15 tahun, mengiringi dengan piano. Dolly sejak usia 6 tahun sudah membaca buku detektif berbahasa Belanda. Adiknya, Totok, juga didapati Mohammad Roem sedang membaca buku Mahabarata - pun dalam bahasa Belanda.
Jef Last, wartawan dan aktivis sosialis Belanda pernah bertanya, mengapa putra Agus Salim (Islam Salim) begitu fasih berbahasa Inggris, padahal ia tidak belajar di sekolah? Agus Salim dengan enteng menjawab, "Apakah Anda pernah mendengar tentang sekolah tempat kuda belajar meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya Islam juga meringkik dalam bahasa Inggris."
Hebatnya, masih menurut Jef Last, Agus Salim bahkan juga menguasai "bahasa kambing dan kuda". Dalam suatu pertemuan, setiap akhir kalimat yang disampaikan Agus Salim selalu disambut oleh para pemuda dengan sahutan "mbek, mbek, mbek". Itu untuk mengejek janggutnya yang panjang seperti janggut kambing.
Saat itu, Agus Salim langsung menukas, "Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun mendatangi ruangan ini untuk mendengar pidato saya. Sayang mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Saya sarankan kepada mereka agar keluar ruangan sekadar makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini selesai, mereka akan disilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing untuk mereka." Keadaan tiba-tiba berbalik, para pemuda itu tidak keluar tetapi diam karena malu.
Jenius 9 bahasa
Meskipun seorang poliglot yang mahir banyak bahasa, namun Agus Salim justeru yang pertama kali berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia di sidang Dewan Rakyat (Volksraad), sehingga menggegerkan Belanda. Lawan berundingnya dari pihak Belanda mengakui, "Orangtua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, dan mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat," demikian Prof Schermerhorn, dalam catatan hariannya, 14 Oktober 1946.
Prof George Kahin menuturkan, suatu hari ia mengundang Agus Salim dan Ngo Dinh Diem makan di ruang dosen Cornell University. Salim waktu itu sebagai pembicara tamu di Universitas tersebut, sedangkan Ngo Dinh Diem sedang mengumpulkan dukungan bagi Vietnam Selatan. Tokoh yang terkenal jago omong itu kemudian menjadi Perdana Menteri di negerinya. Kahin terperangah karena kedua tokoh itu asyik berdebat dalam bahasa Prancis. Ia lebih terperangah lagi, Agus Salim ternyata bisa membuat Diem menjadi pendengar yang baik.
Salim memang tidak pernah minder berhadapan dengan tokoh asing. Ketika mewakili Presiden Soekarno menghadiri upacara penobatan Ratu Inggris Elisabeth tahun 1953, ia agak kesal dengan suami Ratu (Pangeran Philip) yang kurang perhatian terhadap tamu asing yang datang dari negeri-negeri jauh. Agus Salim lalu menghampiri dan mengayun-ayunkan rokok kreteknya di sekitar hidung Pangeran.
"Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini?" Dengan ragu-ragu menghirup rokok itu, Pangeran mengakui tidak mengenal aroma tersebut. Agus Salim pun dengan tersenyum, lalu berujar, "Itulah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya." Maka suasana pun menjadi cair, Sang Pangeran mulai ramah meladeni tamunya.
Agus Salim dikenal juga sangat disiplin dalam mendidik diri dan keluarganya. Setelah anak pertama lahir, selama sekitar 18 tahun keluarganya hanya makan sayur segar tanpa daging. Padahal, dalam keluarga Minang, makan daging seperti rendang adalah santapan utama.
Ada dua alasan yang mendorongnya melakukan hal tersebut. Pertama, seperti diceritakan anaknya, karena ia menderita ambeien, sehingga oleh dokter dianjurkan banyak makan sayur dan berpantang daging. Namun ada pula sumber lain yang mengatakan, Salim takut karena istrinya adalah saudara sepupunya sendiri, kuatir hal itu menyebabkan anak-anaknya cacat. Sebab itu perlu dilakukan diet kesehatan yang sangat ketat agar putra-putrinya yang dilahirkan juga sehat.
Den Bagus jadi Agus
Agus Salim dilahirkan di Koto Gadang, Bukittinggi, tahun 1884 dan wafat di Jakarta tahun 1954. Ketika dilahirkan, ia bernama Masyudul Haq, nama seorang tokoh dari sebuah buku yang dibaca ayahnya, Sutan Mohammad Salim. Nama adalah doa, kata Nabi, maka dalam pemberian nama itu terkandung harapan agar sang putra kelak menjadi pembela kebenaran.
Ketika Masyudul kecil, ia diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggil anak majikannya "den bagus" yang kemudian dipendek jadi "gus". Kemudian teman sekolah dan guru-gurunya pun ikut memanggilnya "Agus". Sumber lain menyebut, nama "August" ditambahkan oleh gurunya sewaktu sekolah dasar.
Ketika berusia 6 tahun, ayahnya menjadi Jaksa Kepala untuk daerah Riau dan sekitarnya. Agus diterima di Sekolah Dasar Belanda Europeese Lager School (ELS). Kepala sekolah senang akan kecerdasannya dan menawari untuk tinggal di rumahnya. Sang ayah setuju, dengan syarat anaknya setiap hari tetap pulang dan tidur di rumah. Jadi, saat makan pagi, siang, dan malam, Agus Salim berada di rumah Kepala Sekolah. Itulah sebabnya ia sangat fasih berbahasa Belanda.
Setelah lulus dari ELS ia dikirim ke Batavia untuk belajar di Hogere Burger School (HBS). Ia lulus dengan angka tertinggi tidak saja di sekolahnya, tetapi juga untuk HBS lain (Bandung dan Surabaya). Namanya menjadi terkenal di seantero Hindia Belanda di kalangan kaum kolonial dan terpelajar.
Pada 1905, Snouck Hurgronye mengusulkan kepada pemerintah Belanda, eksperimen penempatan tenaga pribumi pada perwakilan Belanda di luar negeri. Agus mendapat tawaran bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah sebagai penerjemah dan mengurus urusan haji. Di kota ini ia memperoleh kesempatan untuk memperdalam Agama Islam.
Sepulang dari Tanah Suci, Salim sempat bekerja di Dinas Pekerjaan Umum. Namun, ia keluar dari birokrasi Belanda dan mendirikan sekolah swasta di kampungnya di Koto Gadang. Hanya sebentar, ia kemudian berangkat lagi ke Jakarta dan terjun ke dunia politik melalui Syarikat Islam (SI).
Kritis tapi tetap cerdas
Semasa penjajahan, ia tidak pernah ditangkap oleh Belanda. Baru setelah Indonesia merdeka ia beberapa kali diasingkan bersama dengan pemimpin nasional lainnya. Mengapa Belanda tidak menangkapnya? Salah satu kemungkinan, lantaran gaya bahasa Agus Salim yang kritis dan tajam tetapi disampaikan secara halus dan cerdas. Ia beberapa kali menjadi pengelola surat kabar dan sangat produktif menulis, baik tajuk rencana maupun artikel lainnya. Di Harian Neraca, 25 September 1917, ia menulis "dalam negeri kita, janganlah kita yang menumpang".
Setelah Indonesia merdeka, ia beberapa kali menduduki posisi Menteri Muda, kemudian Menteri Luar Negeri. Pengakuan negara-negara Arab atas kemerdekaan Indonesia tahun 1947 dapat dianggap sebagai jasa Agus Salim bersama beberapa tokoh nasional lainnya. Sebelumnya, sempat selama tiga bulan mereka mengembara di Timur Tengah dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas sebagai utusan negara yang baru merdeka.
Selain penghargaan terhadap demokrasi, Agus Salim juga sangat memperhatikan bidang hukum. Di harian Fadjar Asia, 29 November 1927 ia menulis tentang polisi dan rakyat: "sikap polisi terhadap rakyat, istimewa keganasan dan kebuasan polisi dalam memeriksa orang yang kena dakwa atau yang hanya kena sangka-sangka rupanya belum berubah-ubah. Hampir tiap hari ada pesakitan di depan landraad yang mencabut "pengakuan" di depan polisi yang lahir bukan karena betul kejadian melainkan hanya karena kekerasan siksa."
Bagi saya, kekaguman terhadap tokoh tidak identik dengan kultus individu, karena setiap orang pasti memiliki kelemahan. Di dalam tulisan Michael F. Laffan, "Between Batavia and Mecca, Images of Agoes Salim from the Leiden University Library, Archipel No. 65", Tahun 2003 terdapat foto Agus Salim dan keluarga semasa ia bertugas di Jeddah, "Salim had married locally in order to be nursed when sick". Saya tanyakan kepada salah seorang putri Agus Salim, tiga tahun silam, yang mengakui bahwa memang benar Agus Salim pernah menikah ketika berada di Jeddah.
Kehebatan seorang tokoh justru terlihat, ketika di balik kehebatannya, ia tetap tampil sebagai manusia.
(Agus Surono, Sumber: Intisari-online.com)

Kamis, 12 Desember 2013

Masjid di Pusat Perbelanjaan

Mal atau pusat perbelanjaan saat ini menjadi tujuan utama rekreasi keluarga di kota besar. Para keluarga mengisi akhir pekannya dengan berjalan-jalan atau belanja di mal yang ada. Mal -mal tambah banyak dan saya bersyukur kalau mal-mal yang baru mulai memperhatikan tempat shalat. Tempat shalat atau mushola di Mal sekarang mulai memperhatikan kenyamanan buat yang shalat.

Dulu mushola ditempatkan di basement mal tapi sekarang banyak yang ditempatkan di lokasi yang strategis. Dari sekian pusat perbelanjaan yang menyediakan tempat shalat, beberapa malah menyediakan masjid seperti Blok A Tanah Abang dan Pasaraya Blok M. Kabarnya Mal Cijantung juga menyediakan masjid. Blok A Tanah Abang dan Pasaraya Blok M menyediakan masjid yang saya kira sama luasnya. Blok A di lantai 12 A dan Pasaraya di Lantai 5.

Keduanya hampir sama bersihnya namun ada keistimewaan yang diberikan oleh Masjid Pasaraya yang tidak akan ditemukan di Masjid lainnya. Keistimewaan itu juga sulit ditemukan oleh masjid-masjid yang di luar Mal.

Keistimewaan Masjid di Pasaraya yang dinamakan Masjid A-Latif adalah Masjid itu dikelola sebagaimana mengelola hotel. Petugas yang santun dan berpakaian seragam yang baik, seragamnya seringkali lebih bagus dari baju pengunjungnya, tempat penitipan sandal dan sepatu yang enak dengan tempat duduk untuk membuka atau memakai sepatu dan bisa juga untuk orang yang menunggu jamaah shalat.

Setelah kita menitipkan sepatu, kita berwudu di tempat wudu yang luas dan bersih sehingga kita bisa tenang saat berwudhu. Selesai berwudhu kita berjalan ke dalam masjid. Antara tempat wudhu dan masjid ada kain lebar dan tebal seperti handuk yang berfungsi untuk mengeringkan kaki kita sehingga kaki kita sudah kering saat menginjak karpet masjid. Umumnya di masjid lain cukup sekedar keset, kadang-kadang kesetnyapun basah karena terlalu banyak menyerap kaki basah jamaah sehingga apa yang dilakukan di Pasaraya seharusnya menjadi contoh bagi masjid lainnya dalam mengelola tempat wudhu.

Kaki kita yang kering kemudian disambut karpet merah yang tebal dan bersih. Cukup banyak juga langkah kaki dari pintu masuk masjid hingga saf pertama masjid. Di barisan depan hingga saf ketiga ada kain merah panjang dengan lebar 30 cm yang diletakkan di wilayah sujud yang fungsinya untuk menyerap dahi kita yang basah saat sujud sehingga karpet tetap bersih dan cukup kain saja yang dicuci. Nikmat sekali kita saat sholat dan damai saat sujud dikarenakan alas sujud yang bersih. Soal sujud di tempat lain, saya pernah berharap dalam hati  agar imam jangan lama-lama sujudnya karena bau tak sedap dari karpet, bagaimana mau khusuk kalau sudah begitu.

Sebagai makmum di masjid A Latif, saya menikmati bacaan Imam Masjid yang baik dan tartil. Imam itu disediakan oleh manajemen Masjid untuk memimpin shalat wajib. Dan kegiatan shalat jamaah tidak terbatas shalat lima waktu tetapi juga untuk shalat Taraweh waktu Bulan Ramadahan. Bagi saya ini sangat memberikan solusi jika istri ingin belanja menjelang Idul Fitri tapi saya tidak mau ketinggalan taraweh. Puas menemani istri belanja di Pasaraya, malamnya saya taraweh di Masjid di Pasaraya. Sebelum taraweh juga ada kultum yang diisi oleh ustad yang bisa mencharge hati kita.

Luar biasa mal ini, keistimewaan bukan pada isi dagangan atau kulinernya tapi pada bagaimana pemilik mal memperlakukan rumah Allah yang ada di mal miliknya. Semoga masjid ini menjadi amal jariah dari pemiliknya dan diberi kemudahan rejeki yang berlimpah dan berkah. Amin

Rabu, 11 Desember 2013

Jam Indonesia

Pernahkan anda memperhatikan jam tangan yang anda pakai? Apakah sama waktu yang ditunjukkan oleh jam tangan anda dan jam pada dinding rumah anda? Coba perhatikan juga sekali waktu jam yang dimiliki teman anda dan kalau lebih luas lagi orang di sekitar anda saat anda di kendaraan umum atau di tempat umum lainnya.Apakah waktu yang ditunjukkan sama?
Definisi sama di sini bukan kesamaan hingga skala detik melainkan cukup dalam menit yang ditunjukkan. Umumnya waktu yang ditunjukkan oleh jam yang berbeda adalah tidak sama. Perbedaan bahkan hingga mencapai setengah jam dari jam yang berbeda tersebut.
Mengapa hal tersebut terjadi, hal itu tak lain karena budaya orang Indonesia yang suka memajukan waktu pada jamnya. Alasan utamanya adalah untuk membuat mereka lebih tepat waktu ke tempat kerja atau sekolah sehingga mereka dengan melihat waktu yang lebih maju mereka lebih awal bersiap-siap untuk ke tempat kerja atau sekolah.
Kelihatannya tidak ada masalah akan hal ini tapi sadarkah mereka bahwa mereka dibohongi oleh jamnya setiap saat mereka melihat jam dan bisa jadi mereka akan membohongi orang lain yang melihat jamnya. Mengapa mereka tidak menset jamnya untuk tepat waktu dan untuk agenda ke tempat kerja atau ke sekolah mereka tinggal buat jadwal persiapan yang lebih panjang dari kebiasaannya.
Disiplin bisa dibentuk menjadi karakter. Karakter ada karena kebiasaan yang berlangsung lama dan kebiasaan terbentuk oleh perbuatan yang diulang-ulang dalam waktu lama.


Minggu, 18 Agustus 2013

NILAI-NILAI TARBAWI DARI REVOLUSI RAKYAT


DR. Ahmad Arif – Anggota Koalisi Kebangsaan untuk Mendukung Legalitas

Juru bicara resmi atas nama Jama’ah Ikhwanul Muslimin

Ada 6 nilai tarbawi penting dari “Sekolah Rakyat Revolusi” demi mengembalikan legalitas bangsa Mesir dan enyahnya kudeta berdarah

1. Wahai rakyat Mesir .. wahai orang-orang yang kami cintai .. wahai para kekasih .. berpegang teguhlah dengan tekad para pemberani, dan bersikap lembutlah terhadap sisa-sisa dari orang-orang yang berbeda dengan kalian dengan tetap berpegang pada akhlaq orang-orang agung, sebab, ijma’ (konsensus) itu sesuatu yang mustahil, termasuk dalam cita rasa kemanusiaan, jika bukan mustahil, kenapa salah seorang anak Adam membunuh saudaranya?!

2. Tetaplah selalu tersenyum, dan ingatlah selalu senyum para syuhada’, dan Tuhan kalian tertawa menyaksikan para hamba-Nya cemas, padahal Dia mengetahui bahwa rahmat akan turun kepada mereka, dan kita tidak akan kehabisan kebaikan dari Tuhan yang tertawa …

3. Selalu perbaharui niat untuk tetap bertahan di hadapan revolusi kerusakan yang telah berurat berakar bertahun-tahun. Juga selalu perbaharui niat untuk tetap bertahan dalam menghadapi kepala-kepala yang tunduk kepada para thaghut, sehingga para thaghut itu menguasai mereka dan mempergunakan mereka …

Dan bertanyalah kepada diri kalian: apa yang membuat sorang dokter yang PNS dan mendapatkan kepercayaan publik mau-maunya membuat laporan kepada keluarga para syuhada’ bahwa para syuhada’ itu mati bunuh diri!

Bertanyalah: apa yang menjadikan seorang penyiar yang PNS mengulang-ulang kosa kata yang telah diucapkannya semenjak 25 Januari 2011 yang lalu: “mereka (maksudnya: para demonstran) adalah para penjarah” – “mereka digerakkan oleh pihak asing” – “mereka adalah unsur-unsur …”, lalu para penyiar itu sampai sekarang belum bertaubat dan juga tidak mengambil pelajaran…

4. Jangan sampai kalian hidup sedetikpun ada niatan buruk kepada seseorang, apalagi sampai tidur di malam hari dengan niatan buruk itu, sebab kebohongan itu jika telah mencapai puncaknya, bisa menyeret kerabat dekat dan orang-orang yang dicintai … tidakkah engkau lihat mereka-mereka yang terlibat dalam menuduh kehormatan ummul mukminin Aisyah (ra) secara dusta dan palsu, saat waktu “terlambat” turun selama satu bulan dengan maksud menguji dan menyaring, lalu setelah itu turun ayat yang membersihkannya dari atas tujuh langit, namun setelah ada yang terseret dalam dosa menuduh ummul mukminin, dan itu dari kalangan kerabat … oleh karena itu, salinglah memaafkan dan saling bersikap lembut…

5. Agenda kita jelas.. yaitu menjaga Mesir yang merupakan ummud-dun-ya (induk dunia) dan ummuz-zaman (saudara perempuan zaman) .. di mana bobot perubahan di Mesir ini sangat ditunggu-tunggu. Kedudukan ini layak mendapatkan daya perjuangan besar seperti sekarang ini, oleh karena itu, berbanggalah kalian dengan negeri kalian, sebab negeri kalian adalah gudangnya dunia, hanya saja sekarang ini gudang itu sedang dirampok, namun, rizki penduduknya tetaplah luas jika kita bertakwa kepada Allah SWT.

6. Hindari tindakan radikal, sebab tindakan radikal inilah target dari si “pengkhianat” terhadap kalian, sedangkan kalian wahai rakyat Mesir jauh lebih cerdas dari skenario para pengkudeta yang mencoba menggariskan satu skenario agar kalian terjebak di dalamnya. Jadi, perang radikal adalah kebodohan dan merugikan, sedangkan tentara tetaplah tentara Mesir, bukan tentara kelompok tertentu, atau ras tertentu atau isme tertentu. Betatapun mereka telah mencoba melibatkan beberapa personel tentara dalam pembantaian di garda republik, dan Ramses, Allah lah yang akan membalas siapa saja yang membuat makar terhadapnya dan terhadap rakyat Mesir.